masilham.com

masilham.com

Followers

Wedi Mbojo Vs Wedi Bojo

Diposkan oleh On 9:38:00 PM with No comments

poligami syari
Dewasa ini makin menjamur grup-grup whatsapp di smartphone. Ada beberapa grup yang saya ikuti dengan tema grup yang berbeda-beda, ada grup wali murid, grup guru, grup penulis, grup kelas bisnis online, grup dakwah, dan lain-lain.

Namun ada beberapa grup yang selalu ramai dengan diskusi terutama grup yang khusus dihuni oleh para ikhwan. Dan diantara tema diskusi yang paling banyak mendapatkan respon adalah tema tentang Poligami. Entah kenapa tema ini selalu muncul dan selalu ramai jika dibicarakan. Saya pun jadi tertarik membuat artikel ini lantaran tema diskusi Poligami kali ini memunculkan istilah yang menurut saya sangat unik, yaitu "Wedi Mbojo Vs Wedi Bojo"

Istilah tersebut dimunculkan oleh seorang anggota grup yang bisa dibilang anggota senior, (kalau boleh sebut nama, mungkin saya sebutkan saja di sini, supaya para pembaca bisa belajar langsung ke beliau tentang cara pembuatan istilah unik, he...he....)

Kemunculan istilah ini mungkin secara tidak sengaja, dan saya yang membacanya dibuat cengar-cengir sambil memikirkan untuk membuat artikel unik yang berkaitan dengan istilah, "Wedi Mbojo Vs Wedi Bojo", kemudian istilah inipun saya putuskan untuk dijadikan sebagai judul artikel yang sedang saya tulis ini.

Lalu apa hubungannya Poligami dengan istilah ini? Awalnya begini, ada beberapa anggota grup yang mengangkat tema diskusi tentang Poligami, tapi berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, poligami hanya sebatas wacana atau hasrat yang tidak tersalurkan, sehingga pelampiasannya hanya jadi obrolan super hot di grup whatsapp, dan biasanya tidak ada tindak lanjut menuju pelaminan kedua. Seharusnya poligami itu untuk dipraktekan, bukan untuk dibicarakan, apalagi untuk dijadikan bahan candaan.

Mengapa tema poligami di grup-grup whatsapp para ikhwan hampir tidak pernah berlanjut pada proses pelaminan kedua? Alasan yang mungkin agak logis adalah karena adanya tembok besar yang menghalangi niatan poligami para ikhwan. Tembok besar itu bentuknya macam-macam, diantaranya yang akan kita bahas di sini adalah, "Wedi Mbojo dan Wedi Bojo". Itulah asal usul atau latar belakang terbitnya artikel "Wedi Mbojo Vs Wedi Bojo" ini.

Istilah wedi mbojo dan wedi bojo berasal dari kata bahasa Jawa. Wedi mbojo artinya takut menikah, wedi bojo artinya takut istri. Lebih bagus mana antara wedi mbojo dengan wedi bojo? Kedua istilah ini tidak bisa dikatakan bagus, karena dua-duanya mengandung makna negatif. Virus Wedi mbojo atau takut menikah hanya menjangkiti orang-orang yang tidak yakin akan jaminan rezeki dari Allah bagi orang yang menikah.

Alasan ekonomi menjadi salah satu alasan yang diutarakan oleh kaum lelaki untuk tidak berani melangkah menuju poligami. Seakan-akan, alasan tersebut melegitimasi keputusan mereka untuk tidak menikah lagi, padahal keinginan poligami sudah menggebu-gebu dan menjadi bahan diskusi di setiap grup whatsapp khusus para ikhwan.

Supaya lebih yakin, silahkan buka mushaf Al Qur'an surat An-Nur ayat 32 . Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya, "Dan, kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan, Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui."

Allah memiliki berbagai cara yang tak terduga untuk menurunkan rezekinya bagi setiap hamba-Nya. Jadi jangan khawatirkan tentang rezeki, ojo wedi mbojo, jangan takut menikah (lagi). (Wah saya kok malah jadi motivator poligami. Ha...ha...)

Baiklah, kita lanjut pada istilah kedua, "Wedi Bojo", artinya takut istri. Takut istri, sebenarnya melanggar hukum Islam. Seorang suami, ia memiliki kewajiban untuk memimpin rumah tangganya. Suami sebagai pemegang kendali dalam rumah tangga. Hanya saja, banyak kita temukan hal yang sebaliknya. Ada istri yang malah berkuasa di rumah. Sedangkan suami hanya bisa mematuhi apa yang diperintah oleh sang istri.

Sungguh, ini di luar kewajaran. Sebab, dalam Islam diatur bahwa istri harus taat pada suami. Sedangkan suami tidak memiliki kewajiban untuk menaati istri, termasuk larangan istri tentang poligami suaminya.

Kalau memang anda serius untuk berpoligami, maka jangan ada lagi alasan untuk menunda poligami. Jangan beralasan, wedi mbojo atau wedi bojo. Sebaliknya jika tidak serius berpoligami, tak perlu sering ngeshare artikel tema-tema poligami atau malah menjadikan poligami sebagai bahan candaan.

Orang jawa mengatakan, "Nek wani ojo wedi-wedi. Nek wedi ojo wani-wani", artinya, Kalau berani jangan ragu dan takut. Kalau takut, jangan coba-coba......
Wakil Rektor UIN : Kalau ke UIN Jangan Pakai Cadar

Diposkan oleh On 9:38:00 AM with No comments

Membaca tulisan yang ada pada gambar di atas, mata saya terbelalak setelah membaca pernyataan dari wakil rektor UIN Walisongo. Kok bisa ya kampus yang beridentitas Islam justru sangat membenci penggunaan cadar.

Terkait ketentuan menutup wajah memakai cadar, beliau mengatakan, "Seperti pakai sarung, cadar juga produk budaya. Kalau ke UIN jangan pakai sarung juga. Begitu juga cadar, kalau ke UIN jangan dipakai".

Kalau cadar itu murni budaya dan bukan ajaran Islam, kenapa budaya dilarang masuk kampus? Katanya kita dianjurkan melestarikan budaya?

Apakah ada jenis pakaian yang tidak mengandung unsur budaya? Celana panjang pun termasuk budaya. Berarti juga dilarang pake celana kalau ke kampus? Kwkwkwkwk.

Pakaian sexi juga budaya, budaya barat. Kenapa tidak dilarang masuk kampus?

Tak perlulah melarang-larang penggunaan cadar dengan alasan budaya. Karena cadar bukan hanya budaya tapi ajaran Islam. Dosen kampus Islam kok ga mudeng bahwa cadar itu ada dalilnya. Aneh.

Setidaknya dengan viralnya kasus pelarangan cadar di kampus UIN ini telah membuka mata kita, bahwa UIN adalah kampus sekuler, meski kelihatannya beridentitas Islam.

Semoga suatu saat UIN akan kembali pada jati dirinya sebagai kampus Islam.


Inikah Orang Yang Diceritakan Dalam Al Qur'an

Diposkan oleh On 8:17:00 AM with No comments


Beberapa hari ini sedang viral berita tentang jamaah umroh Indonesia yang menghebohkan dunia. Lantaran mereka melaksanakan kegiatan Sa'i dengan membaca pancasila, dan ikrar-ikrar yang hal itu tidak pernah ada dalam aturan kegiatan haji maupun umroh.

Melihat perilaku mereka yang seenaknya sendiri dalam melakukan kegiatan umroh, mengingatkan saya tentang sebuah ayat yang menggambarkan tentang perilaku mereka itu.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً ۚ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

"Dan sholat(Ibadah)  mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu."
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 35)

Kegiatan haji dan umroh seharusnya dijauhkan dari tujuan-tujuan politik dan kegiatan-kegiatan lain yang tidak ada dalam aturan Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا جُعِلَ رَمْيُ الْجِمَارِ وَ الطَّوَافُ وَ السَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَ الْمَرْوَةِ لإِقَامَةِ ذِكْرِ اللهِ لاَ لِغَيْرِهِ

Sesungguhnya melempar jumrah, thawaf dan sa’i di antara Shafa dan Marwah dilakukan hanyalah untuk menegakkan dzikir kepada Allah, bukan untuk yang lainnya.
(HR Abu Dawud 1888 )

Hadits shahih di atas memberikan pesan kepada kita, bahwa tujuan beberapa pelaksanaan dalam ibadah haji dan umrah, seperti thawaf, melempar jumrah dan sa’i di antara Shafa dan Marwah hanyalah untuk menegakkan dzikir kepada Allah, bukan untuk yang lainnya, seperti bernyanyi, deklarasi, dan lain sebagainya.
Aku Diam-diam Menaruh "Perekam Suara" dalam Saku Anakku Sebelum Ke Sekolah! Begitu Mendengar "Isinya", Aku Langsung Naik Pitam!!

Diposkan oleh On 8:09:00 AM with No comments

Orang tua wajib baca!
 
Semua anak adalah buah hati orang tua. Orang tua mana yang akan tinggal diam bila mengetahui anaknya diperlakukan dengan kejam di sekolah!?

anak sekolah
Kejadian guru menganiaya anak muridnya sudah kerap terjadi, termasuk di Indonesia. Kali ini, seorang ibu di China mengetahui ternyata anaknya dianiaya oleh guru sendiri di sekolah berkat perekam suara yang ia letakkan diam-diam di saku seragam anaknya.

Awalnya, ibu Zheng merasa aneh. Ia melihat anaknya pulang sekolah dengan mata merah dan bengkak seperti habis nangis. Anaknya terus merengek, "Besok gak mau ke sekolah!" Awalnya ibu Zheng mengira buah hatinya hanya belum beradaptasi dengan lingkungan baru, karena itu ia tidak terlalu menanggapinya dan tetap mengantarkan anaknya ke sekolah setiap hari.

murid dipukul
Sehari dua hari, anaknya pulang sekolah bukan hanya nangis namun juga mengadu, "Guru mukul aku! Sakit! Aku gak mau ke sekolah!" Ia baru tahu kalau anaknya mengalami penganiayaan di sekolah. Untuk itu, ia pun diam-diam menaruh perekam suara di dalam saku seragamnya. Apa yang ia dengar kemudian membuatnya sontak marah besar!

orang tua
"Mulutnya tutup! Denger gak! Siapa yang bicara gak boleh makan!

Liat apa liat!?

Duduk! Disuruh duduk yah duduk!

Disuruh pakai baju gak bisa pakai yah!?

(Pukul) Nangis lagi!

(Pukul) Buat apa nangis!? Nangis lagi ku usir kamu!"

Suara pukulan terdengar sangat jelas. Siapapun yang mendengar pasti tahu itu adalah suara anak dipukul.
Setelah ibu Zheng melapor dan menunjukkan bukti rekaman pada pihak sekolah, guru yang bermarga Liu tersebut langsung langsung dipanggil. Ekspresinya gugup. Awalnya ia menyalahkan sang anak, "Anaknya terlalu bandel, susah diatur!"

Ia mengaku ia gagal mengatur emosinya dengan baik dan melampiaskannya pada anak-anak, tapi ia menyangkal bahwa ia memukul sang anak. Suara pukulan yang terekam adalah suara tangannya menepuk tangan dan memukul meja, bukan memukul anak. (Alasan saja)

Parahnya lagi, pihak sekolah pun selama ini tidak tahu apa yang diperbuat guru Liu. Ibu Zheng pun langsung memindahkan anaknya sekolah hari itu juga. Ia sudah tidak percaya lagi pada sekolah itu. Bagaimana pihak sekolah bisa sampai tidak tahu dan bisa-bisanya mempekerjakan guru yang menggunakan kekerasan dalam mendidik anak muridnya? Bagaimana orang tua mempercayakan anaknya pada sekolah yang seperti itu?

Setiap orang tua yang mengalami kejadian seperti ini pasti akan murka! Anak diperlakukan seperti apa di sekolah atau dibully oleh temanteman sekelasnya adalah tanpa sepengawasan orang tua. Sebagai orang tua, yang bisa dilakukan hanyalah bertanya dan memperhatikan kondisi anak sepulang dari sekolah. Setiap anak adalah buah hati yang harus dijaga baik-baik!

Sumber : Coco/cerpen.co.id
Cara Mudah Mengetahui Nomer HP Sendiri

Diposkan oleh On 10:20:00 PM with No comments

cara mengetahui nomor hp
Beberapa kali saya bingung ketika hendak mengisi pulsa. Pasalnya saya lupa nomer hape yang belum lama saya beli.

Tak ingin hal itu terulang kembali, saya berusaha menghafal nomer hape yang saya beli. Tapi agak repot juga kalau tiap ganti nomer perdana hape kudu menghafalkan nomernya.

Akhirnya saya menemukan cara mengetahui nomer hape setelah saya browsing di internet. Dan dari pada saya harus selalu browsing ke blog-blog lain ketika ingin mengetahui nomer hape sendiri, mendingan saya tulis aja di blog ini. Dan artikel ini saya kasih judul, "Cara Mudah Mengetahui Nomor HP sendiri.

Adapun caranya sebagai berikut :
Cara nge-cek nomor Hp Telkomsel Ketik : *808# lalu Yes / Call.
Cara nge-cek nomor Hp Indosat Ketik : *777*8# lalu Yes / Call.
Cara nge-cek nomor Hp Three Ketik : *998# lalu Yes / Call.
Cara nge-cek nomor Hp Axis Ketik : *2# lalu Yes / Call.
Cara nge-cek nomor Hp XL Ketik : *123*22*1*1# lalu Yes / Call.
Cara nge-cek nomor Hp Flexi Ketik lewat SMS : INFO lalu kirim ke 678.
Cara nge-cek nomor Hp Flexi,ESIA,StarOne,SMART dan FREN Pasang simcard di ponsel Nokia,lalu ketik : *3001#kode pengaman#.Contoh : *3001#12345# Lalu tunggu sampai keluar Menu, pilih NAM1 kemudian geser kebawah pilih “Own number (MDN)”.

Maka akan terlihat nomer pribadi kartu Anda. Semoga bermanfaat.
Pelantikan Gubernur Jakarta dan Gagalnya Move On Para Pendengki

Diposkan oleh On 10:48:00 PM with No comments

pelantikan gubernur
Ah, tak terasa, ternyata saya sudah lama tidak menjamah blog ini. Beberapa bulan ini ada kesibukan offline yang lumayan menyita perhatian saya. Dan saya pun makin kesulitan mengupdate blog ini setelah HP android kesayangan saya mati total.

Kalau ada HP android, saya bisa tetap eksis dan mengupdate blog ini meski harus mencuri-curi waktu di tengah-tengah kesibukan di dunia offline.

Qodarullah hari ini saya ada banyak waktu kosong, sehingga ada pikiran untuk mengisi blog ini.

Dan hari ini merupakan hari pelantikan Gubernur baru untuk DKI Jakarta yaitu Anies Baswedan dan wakil gubernur Sandiaga Uno.

Sebagian besar ummat Islam Jakarta merasa berbahagia atas pelantikan gubernur baru ini. Karena pasangan gubernur pilihan ummat Islam berhasil dilantik menggantikan gubernur lama yang tersangkut kasus penistaan agama.

Sementara itu, para pendukung gubernur yang lama tidak juga lekas move on dari kekalahan pilkada Jakarta. Hal itu tampak dalam opini-opini mereka yang lebih banyak menilai negatif terhadap pasangan gubernur Anies - Sandi.

Dan uniknya, mereka sudah menagih janji DP 0%. Padahal para pendukungnya saja tidak begitu berminat dengan DP 0% he..he... Lagi pula pasangan Anies - Sandi juga baru dilantik, masak udah langsung ditagih janji DP 0%. kan lucu. ha...ha...

Benci jangan terlalu benci, suka jangan terlalu suka. Woles saja kang. Hidup kita cuma sekali di dunia ini, tak perlu lah mempersulit diri dengan fanatisme kebablasan semacam itu.