Followers

Update Terbaru

Kain Kafan Istriku

Diposkan oleh On 7:13:00 PM with No comments



Terkesan aneh memang kisah yang akan aku ceritakan tapi kisah ini merupakan kisah agar kita selalu ingat akan kematian dan bahwasanya sebesar apapun harta kita tak ada seujung kukupun yang akan kita bawa saat jasad akan dimasukkan kedalam liang kubur (Allahumma najina min 'adzabil qobr, waj'alna fi quburina wasi'an).

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku seorang pedagang kain ternama di Jakarta, dan banyak motif serta corak kain yang aku jual belikan, saat itu ketika sedang ramai ramainya model corak sakura, tokoku sangat ramai oleh pembeli.
Dari para remaja gadis serta ibu ibu tidak ketinggalan membeli dalam jumlah cukup banyak.
Entah apa yang ada dalam hatiku saat itu, namanya juga jodoh ya....hehe.
Aku terpesona dengan seorang gadis yang ketika itu masuk ke tokoku, tapi dia bukan pembeli. Dia seorang wanita yang diajak temannya untuk memilihkan motif kain untuk dijadikan gaun pengantin.
Pegawaiku yang biasa melayani para pembeli, tapi kali ini aku ingin melayani pembeliku yang satu ini.

Maaf mba cari motif yang seperti apa, kalau boleh tahu mungkin saya bisa membantu?..
Kenalkan saya Ahmad
Hemm tersenyum dia, kemudian temannya berkata oh ya mas kenalin saya Ari, maaf mas aku ingin mencari kain yang pas untuk gaun pengantin.
Oh mari mba ikut saya, mba bisa memilih khusus motif motif special untuk gaun pengantin.

Curi curi pandang begitulah istilahnya, gimana tidak aku malah terfokus pada wanita itu. Terlihat lugu sekali ketika melihat kain bahan gaun pengantin. Hemm tidak seperti wanita wanita yang lain terpesona dan tertarik walau hanya untuk melihat lihat. Tapi tidak dengan wanita ini.
"Sinta coba lihat ini bagus banget yaahh...tanya Ari,
"MasyaAllah ...iya Ri, jawab Sinta secara singkat.

Saling tawar menawar akhirnya Ari memilih bahan gaun yang sederhana tanpa motif mencolok, karena saran dari temannya, Santi.

Begitu selesai administrasi, aku mencegah Ari.
"mba Ari tolong undang saya di acara pernikahanmu ya, ...ucapku setengah memaksa.
"Wahh dengan senang hati mas Ahmad pasti aku undang.
"Ayo Rii, cepetan sebentar lagi hujan ....sahut Santi mengajak Ari pulang.

Ya Allah, ...hari ini kerjaanku tak terasa melelahkan, padahal pembeli ramai seperti biasa, hanya terlihat beda setelah aku melihat wanita itu.
Satu bulan berlalu, dan acara pernikahan Ari telah tiba, akupun berpenampilan keren ingin memenuhi undangan Ari, bukan karena senang akan melihat gaun pengantin Ari, tapi karena senang aku akan mengajak Sinta jadian ...yeesss .

Tamu undangan memang tak sedikit, aku cari cari Sinta tapi ko tidak ada. Ahh kelamaan aku langsung menemui pengantinnya.
"Selamat ya mba Ari, sekedar kado biasa ...semoga menjadi keluarga bahagia ya.
masih ingat saya kan...ucapku
"pasti lah , terimakasih mas Ahmad, baik sekali anda ..aku yakin nih pasti hadiahnya kain yang indah hihi ...sahutnya Ari
"Oh ya boleh tahu temanmu Santi dimana ...tanyaku
"Hemm....dia lagi sakit dan hanya berbaring di rumahnya, sayang sekali aku sedih banget, karena dia tak bisa hadir dalam acara bahagiaku ....

Aku secepatnya meminta alamat rumahnya dan menjenguk Sinta.
Rumahnya sederhana dan ketika aku berkunjung yang menyambut kedatanganku seorang gadis agak mirip dengan Sinta.
"maaf dek benarkah ini rumah Sinta
Iya ka, silahkan masuk ...ucapnya
buu ...ada tamu yang mencari mba Sinta.

Aku dipersilahkan masuk dan di sediakan minuman.
Sinta keluar dari kamarnya, terlihat pucat wajahnya dan bingung ketika melihatku.
Maaf mas siapa ya..tanya dia
Oh kenalkan saya Ahmad, pemilik toko kain yang pernah mba Ari dan mba Sinta kunjungi.
Sempat lupa tapi dia ingat ingat dan akhirnya teringat juga.
Berbincang bincang, meski pertama aku tak yakin kalau Sinta orangnya mudah diajak ngobrol, tapi ternyata dia orangnya tidak sombong dan nyambung diajak bicara.
Makin lama makin terpesona, sering aku mengunjungi dan bersilaturahmi ketempatnya.
Ketika yang sekiannya aku datang.
Kali ini yang menemui aku bukan Sinta tapi ibu dan Ayahnya, mereka bertanya padaku
"Maaf nak Ahmad, kamu sering sekali datang menemui putri kami, sekiranya ada maksud yang nak Ahmad tujukan maka utarakanlah, kami tidak ingin putri kami menjadi fitnah bagi nak Ahmad.

Ya Allah berdebar hati ini dan aku sangat menantikan moment ini, aku segera utarakan maksudku tapi aku sendiri tidak yakin kalau Sinta akan menerimaku. Jujur aku menyukainya sejak dulu, hanya bibirku kaku untuk mengucapkannya.
"Nak Ahmad, kami tak ada masalah jika niatmu itu baik, tapi ada hal yang perlu kau tahu, putri kami mengidap penyakit kangker. Beberapa lelaki sempat mencintainya tapi begitu mengetahui umurnya yang tak lama lagi merekapun tak meneruskan niatnya. Jika demikian pula pada nak Ahmad, sungguh kami tak apa apa.

Pandanganku kosong, cintaku bukan sekedar cinta, sedih rasanya. Sinta pasti Seorang wanita penyabar. Beberapa kali kebahagiaan akan datang menjemputnya, tapi pupus begitu saja.
Aku memang seketika izin pulang waktu itu, tanpa bertemu dengan Sinta.
        Sekitar satu bulan aku menghilang dari Sinta. Biasanya aku dua minggu sekali ke rumahnya, mungkin kali ini mereka putus asa dengan sikapku dan pasti menilai keputusanku seperti keputusan para lelaki yang pernah akan melamarnya.
Tapi aku telah yakin dengan pilihanku, akhirnya aku datang ke rumah Sinta dan berniat melamarnya.
MasyaAllah....Mereka bahagia dan Sinta sangat gembira, tapi aku tak menyangka suatu keanehan menyambut senyumku waktu itu.
Sinta meminta kain kafan sebagai mahar.
Aku sangat sedih dan serasa teriris iris hatiku, kenapa harus kain kafan, aku tak ingin ditinggal oleh wanita yang aku sayang secepat itu.

"Mas Ahmad, Sinta yakin pada Sang Pemegang nyawa, Sinta ingin meminta mahar kain kafan bukan karena Sinta akan meninggalkan mas Ahmad untuk selamanya, sesungguhnya tak ada yang mengetahui kapan Sinta berpulang padaNya.....tuturnya padaku
"Tapi kenapa harus kain kafan, jikapun gulungan kain yang bercorak penuh keindahan yang kau minta aku pasti menyanggupinya....ujarku penuh ketegasan.
"Sekiranya kau tahu, aku tidak tahu sampai kapan akan menjadi teman hidupmu, yang pasti ketika tubuh ini akan masuk liang lahat tak ada harta apapun yang aku bawa meskipun mahar yang kau berikan itu tinggi nilainya.
Aku ingin maharmu tetap aku bawa meskipun tubuh ini sudah tak bernyawa

Entah suatu kegilaan yang nyata atau apa.
 Aku tak menghiraukan apa kata orang dan itu merupakan tantangan yang tak mudah bagiku seorang pemilik toko kain ternama.
Tapi hanya memberikan mahar kain kafan pada calon istrinya.

Akhirnya aku meminang Sinta, Alhamdulillah kamipun bahagia, Sinta terlihat ceria dan mulai lupa akan penyakit yang di deritanya.
Dia wanita sederhana baik juga ramah, aku mengira kematian akan menjemputnya dalam waktu yang tak lama. Tapi itu semua hanya Allah yang mengetahuinya.
Kami nikmati hidup penuh kenyamanan dan Sinta menyuruhku menjual kain kafan di toko, meski pertama terkesan aneh tapi akhirnya aku bangun toko khusus kain kafan.

Tak jarang sesekali aku melihat kain kafan yang merupakan mahar Sinta, masih rapih dan tersimpan dilemari, mengingatkan bahwasanya kematian pasti akan datang dan kain kafan ini yang akan di pakainya jika Allah memanggil dia suatu saat nanti.
Aku selalu pasrah akan kehendakNya, entah aku atau Sinta yang lebih dulu akan dipanggil olehNya, yang pasti kami berusaha berbenah diri dan menguatkan iman. Serta selalu mengingat kematian.

======================================

Kematian pasti datang kepada setiap yang bernyawa dan kain kafan menunggu siapa manusia selanjutnya yang akan memakainya. Tak ada harta yang kita bawa hanya kain kafan yang kita pakai saat jasad akan dimakamkan.
Semoga Allah memberikan keselamatan pada kita dialam kubur kelak dan menjauhkan kita dari siksaNya. aamiin.

by: Anggun
#CerpenFiksi
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »