Followers

Update Terbaru

Adakah Arwah Bergentayangan Tiap Malam Jum'at?

Diposkan oleh On 1:51:00 PM with No comments

menakutkan

Setiap selesai adzan di sholat lima waktu, anak-anak di daerah saya sering mendendangkan puji-pujian sambil menunggu para jama'ah berdatangan.

Dan biasanya tiap malam jum'at mereka mendendangkan puji-pujian dengan syair berikut ini :

ﺻَﻞِّ ﻭَ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﺩَﺍﺋِﻤًﺎ ﻋَﻠَﻰ ...َﺪَﻤْﺣﺍ
ﻭَﺍﻟْﺂﻝِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺻْﺤَﺎﺏِ ﻣَﻦْ ﻗَﺪْ ..َﺪَّﺣَﻭ
ﻭَﺍﻟْﺂﻝِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺻْﺤَﺎﺏِ ﻣَﻦْ ﻗَﺪْ ﻭَﺣَّﺪَ ..

Saben malem jum’ah ahli qubur tilik omah (Tiap malam jum'at ahli kubur menengok rumah)

Saben malem jum’ah ahli qubur tilik omah (Tiap malam jum'at ahli kubur menengok rumah)

Perlu nyuwun ayat qur’an sa’ kalimah (Untuk minta bacaan Qur'an meskipun satu kalimat)

Lamun ora diwenehi banjur bali karo mrebes mili (Ketika tidak diberi langsung pulang dengan menangis)

Bali meng kuburan nyunggi tangan karo tetangisan (Pulang ke kuburan dengan tangan di atas kepala sambil menangis tersedu-sedu).

Entah siapa yang pertama kali menciptakan syair puji-pujian tersebut. Dalam syair itu ada kalimat yang membuat saya selalu bertanya-tanya. Yaitu kalimat, Saben malem jum’ah ahli qubur tilik omah. Apa benar ahli kubur bisa pulang ke rumah? Apakah benar arwah bisa bergentayangan?

Untuk menjawabnya, kita cermati firman Allah berikut ini, yang artinya:

”(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya, Tuhanku! Kembalikanlah Aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja, dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al Mu’minûn: 99-100).

Ibnu Katsir—rahimahullâh—dalam tafsirnya menjelaskan, ”Allah menginformasikan keadaan orang kafir dan orang yang melalaikan perintah Allah ketika ajal mereka menjelang. Mereka memohon agar dikembalikan lagi ke dunia supaya memperbaiki amalan jeleknya ketika berada di dunia. Tetapi permintaan ini tidak dikabulkan oleh Allah. Mereka mengajukan permintaan ini kepada Allah ketika akan mati, hari kebangkitan, menghadap Allah dan ketika mereka terpanggang di api neraka.” (Tafsîr Al Qur’ânil ’Azhîm, 3/241).

Firman-Nya pula, artinya:

”Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan
kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), “Ya, Tuhan kami! Kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” (QS. As-Sajadah: 12).

Ibnu Katsir menjelaskan tafsir ayat ini, ”Allah mengabarkan keadaan orang-orang musyrik pada hari kiamat. Ketika mereka melihat hari kebangkitan dan berdiri di hadapan Allah dalam keadaan nista dan hina dengan menundukkan pandangan lantaran malu, mereka mengatakan, ”Kami sekarang mendengar perkataan-Mu dan taat kepada perintah-Mu, kembalikanlah kami ke dunia, kami akan mengerjakan amal saleh.” Namun Allah Subhanahu wa Ta'ala menjawab, (artinya):”Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah perkataan dari pada- Ku: “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.” Maka rasailah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini. Sesungguhnya kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan.” (QS. As-Sajadah: 13-14). (Lihat Tafsîr Al Qur’ânil ’Azhîm, 3/428).

Rasulullah pun telah bersabda,

”Arwah mereka (para syuhada) berada di dalam burung hijau, memiliki pelita (sangkar) yang tergantung di ’arsy, terbang di dalam surga ke tempat yang dikehendaki, lalu kembali ke pelita lagi. Allah memperhatikan mereka dan berkata, ”Apakah kalian menginginkan sesuatu?” Mereka menjawab, ”Apalagi yang kami inginkan sedangkan kami bebas terbang ke mana saja?” Allah mengulangi pertanyaan-Nya sampai tiga kali. Ketika mereka menganggap bahwa mereka tidak akan berhenti ditanya (sampai mereka memberikan jawaban), mereka berkata, ”Wahai, Allah! Kami ingin agar Engkau mengembalikan arwah kami ke jasad kami sehingga kami dapat berjihad di jalan-Mu lagi. Tatkala Allah melihat bahwa mereka tidak ada permintaan lagi, mereka pun ditinggalkan.” (HR. Muslim no. 1887).

Dalam hadits lain disebutkan, Rasulullah berkata kepada Jabir,

”Maukah kamu jika aku kabarkan kepadamu apa yang dikatakan Allah kepada bapakmu?” (Allah bertanya kepada bapakmu) ”Wahai hamba, mintalah kepada-Ku, pasti Kuberi!” Sang hamba menjawab, ”Wahai, Allah! Hidupkanlah aku sehingga aku bisa terbunuh kedua kalinya karena Engkau.” Allah menjawab, ”Ketetapan-Ku sudah pasti bahwa mereka tidak dikembalikan ke dunia.” (HR. At-Tirmidzî, dihasankan oleh Al Albâni dalam Shahîh at-Tirmidî no. 3010).

Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka sesungguhnya arwah manusia itu tidak bisa bergentayangan atau kembali ke rumah tiap malam jum'at.

Jika si Mayat adalah orang sholeh, maka dia akan mendapatkan nikmat kubur. Tidur di temani amal sholehnya hingga hari kiamat. Jika dia orang yang jahat, maka dia mendapatkan adzab kubur. Dan saya kira banyak sekali hadits yang menjelaskan keberadaan adzab dan nikmat kubur.

Hal ini telah disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah. Imam Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah , penulis kitab al-Aqîdah ath-Thahâwiyah, berkata, “Telah mutawatir hadits-hadits dari Rasûlullâh tentang keberadaan adzab dan nikmat kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya; Demikian juga pertanyaan dua malaikat.

Oleh karena itu, wajib meyakini dan mengimani kepastian ini. Dan kita tidak membicarakan bagaimana caranya, karena akal tidak memahami bagaimana caranya, karena keadaan itu tidak dikenal di dunia ini. Syari’at tidaklah datang membawa perkara yang mustahil bagi akal, tetapi terkadang membawa perkara yang membingungkan akal. Karena kembalinya ruh ke jasad (di alam kubur) tidaklah dengan cara yang diketahui di dunia, namun ruh dikembalikan ke jasad dengan cara yang berlainan dengan yang ada di dunia.” [Kitab Syarah al-Aqîdah ath-Thahâwiyah, hlm.450; al-Minhah al-Ilâhiyah fii Tahdzîb Syarh ath-Thahâwiyah, hlm. 238]

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana kalau ada orang yang mengaku pernah berjumpa dengan arwah keluarganya yang telah meninggal dan bergentayangan? Sebenarnya itu bukan arwah keluarganya, melainkan ulah setan dan jin. Jin bisa menyamar jadi arwah dan mengaku sebagai arwah keluarga kita yang telah meninggal.

Jin itu sengaja melakukannya dengan tujuan untuk menjerumuskannya dan menyesatkan manusia dari jalan Allah. Wallahu a'lam bish showwab.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »