Followers

Update Terbaru

Dianggap Ahlul Bid'ah Jika Beda Kelompok Ngaji

Diposkan oleh On 1:50:00 PM with No comments

usai sholat
Ilustrasi saja
Ada pemandangan yang unik setiap selesai sholat subuh di mushola dekat rumah saya. Ada 3 orang yang menurut sepengetahuan saya sering mengikuti kajian sunah, namun anehnya punya kebiasaaan yang agak aneh.

Setiap selesai sholat subuh,  mereka bertiga langsung angkat kaki setelah mengetahui akan ada pembacaan hadits oleh salah satu pengurus mushola.

Kebiasaan kabur dari mushola seperti itu sudah berjalan bertahun-tahun. Dan tampaknya akan terus seperti itu. Kemungkinan mereka mengikuti sebuah doktrin yang mengharuskan untuk menjauhi orang yang menurut mereka sebagai ahlul bid'ah. Pantang bagi mereka untuk mendengarkan nasehat dari ahlul bid'ah meskipun isinya tentang hadits nabi.

Menghindari pembacaan hadits yang dibaca oleh orang di luar kelompok mereka itu hanya salah satu efek dari pengamalan doktrin anti bid'ah yang berlebihan. Doktrin yang mereka pelajari juga menuntut mereka untuk menjauhi mayoritas kaum muslimin dan mengambil sikap eksklusif di tengah-tengah masyarakat.

Kenapa mereka bisa seperti itu?Karena mereka dalam berislam hanya berpatokan pada fiqhud dalil saja, dan mengabaikan fiqhul waqi'. Dan mengamalkan qoul ulama mereka secara membabi buta tanpa melihat realita sekarang. Padahal qoul ulama pada masa lampau, tidak semuanya cocok jika diterapkan di zaman sekarang, berbeda dengan Al Qur'an dan Hadits Rasulullah Saw yang selalu relevan sampai kapanpun..

Berikut ini saya sertakan beberapa dalil tentang wajibnya menjauhi ahlul bid'ah yang berimbas pada sikap eksklusif dan menjauhkan diri dari kegiatan berdakwah terhadap masyarakat :

Nasihat Para Ulama Salaf Agar Menjauhi Ahlul Bid’ah

Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma berkata:

لاَ تُجَالِسْ أَهْلَ اْلأَهْوَاءِ فَإِنَّ مُجَالَسَتَهُمْ مُمْرِضَةٌ لِلْقُلُوْبِ.

“Janganlah engkau duduk bersama pengikut hawa nafsu, karena akan menyebabkan hatimu sakit.” [1]

Fudhail bin ‘Iyadh (wafat th. 187 H) rahimahullah berkata:

مَنْ جَلَسَ مَعَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ فَاحْذَرْهُ، وَمَنْ جَلَسَ مَعَ صَاحِبِ الْبِدْعَةِ لَمْ يُعْطَ الْحِكْمَةَ، وَأُحِبُّ أَنْ يَكُوْنَ بَيْنِيْ وَبَيْنَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حِصْنٌ مِنْ حَدِيْدٍ.

“Hindarilah duduk bersama ahli bid’ah dan barangsiapa yang duduk bersama ahli bid’ah, maka ia tidak akan diberi hikmah. Aku suka jika di antara aku dan pelaku bid’ah ada benteng dari besi.” [2]

Beliau rahimahullah juga berkata:

أَدْرَكْتُ خِيَارَ النَّاسِ كُلُّهُمْ أَصْحَابُ سُنَّةٍ وَيَنْهَوْنَ عَنْ أَصْحَابِ الْبِدَعِ.

“Aku mendapati orang-orang terbaik, semuanya adalah penjaga-penjaga Sunnah dan mereka melarang bersahabat dengan orang-orang yang melakukan bid’ah.” [3]

Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H) rahimahullah berkata:

لاَ تُجَالِسُوْا أَهْلَ اْلأَهْوَاءِ وَلاَ تُجَادِلُوْهُمْ وَلاَ تَسْمَعُوْا مِنْهُمْ.

“Janganlah kalian duduk dengan pengikut hawa nafsu, janganlah berdebat dengan mereka dan janganlah mendengar per-kataan mereka.”[4]

Yahya bin Abi Katsir (wafat th. 132 H) rahimahullah berkata:

إِذَا لَقِيْتَ صَاحِبَ بِدْعَةٍ فِيْ طَرِيْقٍ، فَخُذْ فِيْ غَيْرِهِ.

“Jika engkau bertemu dengan pelaku bid’ah di jalan, maka ambillah jalan lain.” [5]

Abu Qilabah al-Raqasyi (wafat th. 104 H) rahimahullah berkata tentang ahli bid’ah:

لاَ تُجَالِسُوْهُمْ، وَلاَ تُخَالِطُوْهُمْ، فَإِنَّهُ لاَ آمَنُ أَنْ يَغْمِسُوْكُمْ فِي ضَلاَلَتِهِمْ، وَيُلَبِّسُوْا عَلَيْكُمْ كَثِيْراً مِمَّا تَعْرِفُوْنَ.

“Janganlah duduk bersama mereka dan janganlah bergaul dengan mereka. Sebab aku khawatir mereka menjerumus-kanmu ke dalam kesesatan mereka dan mengaburkan kepada-mu banyak hal dari apa-apa yang telah kalian ketahui.” [6]

Saya tidak menyangkal kebenaran dalil di atas, namun yang perlu ditanyakan adalah ahlul bid'ah yang bagaimana yang harus dijauhi? Apakah semua orang yang tidak ikut ngaji bersama mereka layak dicap ahlul bid'ah? Apakah gara-gara mengerjakan satu bid'ah kecil lantas wajib dijauhi dan seolah-olah sudah dianggap kafir? 

Apakah Rasulullah Saw mengajarkan kepada kita untuk menjauhi masyarakat muslim? Padahal Rasulullah Saw itu orang yang selalu menyambung tali silaturahim. Selalu santun terhadap semua orang bahkan terhadap orang kafir sekalipun.

Kalau memang mereka ahlul bid'ah, apakah tidak sebaiknya kita dekati mereka agar kita bisa berdakwah kepada mereka? Menjauhi orang yang kita anggap ahlul bid'ah itu sama saja membiarkan mereka berada dalam kesesatan.

Pada tulisan yang akan datang, insya Allah akan saya tampilkan hadits-hadits Rasulullah yang memerintahkan kita untuk berakhlak mulia. Jangan sampai kita dibenci oleh masyarakat gara-gara keburukan akhlak kita. Naudzubillahi min dzalik.




Footnote
[1]. Lihat al-Ibaanah libni Baththah al-‘Ukbary (II/438 no. 371, 373).
[2]. Lihat al-Ibaanah (no. 470) oleh Ibnu Baththah al-‘Ukbari, Syarhus Sunnah (no. 170) oleh Imam al-Barbahari dan Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 1149) oleh al-Lalika-i.
[3]. Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (I/156, no. 267).
[4]. Diriwayatkan oleh ad-Darimi dalam Sunannya (I/110), Ibnu Baththah al-‘Ukbari dalam al-Ibaanah (no. 395, 458), dan lihat Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 240).
[5]. Lihat al-Bida’ wan Nahyu ‘anhaa (I/98-99, no. 124) oleh Ibnu Wadhdhah, tahqiq ‘Abdul Mun’im Salim, asy-Syarii’ah (I/458, no. 135) oleh al-Ajurri, al-Ibaanah (no. 390-392) oleh Ibnu Baththah al-‘Ukbari dan Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 240).
[6]. Al-Bida’ wan Nahyu ‘anhaa (I/99, no. 125) oleh Ibnu Wadhdhah, as-Sunnah (I/ 137, no. 99) oleh ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, asy-Syarii’ah (I/435, no. 114) oleh al-Ajurri, al-Ibaanah (II/437, no. 369) oleh Ibnu Baththah al-‘Ukbari, al-I’tiqaad (hal. 136) oleh Imam al-Baihaqi, Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (I/151, no. 244).






Next
« Prev Post
Previous
Next Post »