Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bangkai Jahiliyah, Ujaran Kebencian Ustadz Riyadh Bajrey Terhadap Ummat Islam Yang Menuntut Keadilan

Ustadz Riyadh Bajrey
Sang idola Talafy yang biasa dipanggil ustadz Riyadh Bajrey tiada henti bikin kontroversi. Dulu pernah menghalalkan darah pendemo, sekarang ia hardik korban kejahatan oknum aparat dan justru menyebut tindakan aparat itu sebagai jihad.

Tak hanya itu, ia bahkan menganggap ummat Islam yang menuntut keadilan dan mati di tangan oknum aparat tersebut sebagai "bangkai jahiliyah". Jika seperti itu, sungguh dia merupakan manusia yang tak punya empati terhadap korban kedzaliman. Naudzubillah min dzalik.

Saya kembali menulis tentang Ustadz yang nyentrik ini lantaran saya kaget kok tiba-tiba blog saya ini diserbu pengunjung. Setelah saya lihat statistiknya, ternyata ustadz Riyadh Bajrey kembali menjadi trending topik di blog ini setelah meluapkan kata-kata kasar terhadap ummat Islam.

Yang membuat saya tidak habis pikir, kenapa berdakwah harus begitu caranya? Apa tidak ada cara lain yang lebih lembut dan menyejukkan? Bukankah Islam mengajarkan akhlakul karimah? Bukankah Rasulullah Sholallahu 'alaihi wa Sallam selalu mengajarkan akhlak mulia?

Kalau model dakwahnya seperti itu, lalu beliau belajar Islamnya dari mana?

Setau saya dakwah itu ya mengajak, bukan mengejek. Supaya memberi perubahan pada para mad'u (obyek dakwah). Kalau disampaikan secara kasar, orang akan lari kecuali yang tinggal hanya teman-temannya, atau kelompoknya saja.

Sebelum berilmu dan berdakwah, baiknya kuasailah dulu adab-adabnya. Biar tidak terkesan srudak-sruduk dan kasar seperti itu. Sampaikanlah dakwah secara lembut pada siapapun, baik terhadap penguasa atau rakyat jelata.

Kalau saya perhatikan ustadz yang satu ini pengennya dakwah terhadap penguasa itu yang lemah lembut, tapi di sisi lain malah mengatai mereka yang jadi korban kekejaman oknum aparat sebagai bangkai jahiliyah.

Kenapa tidak dilakukan tabayun dulu sebelum memvonis orang sebagai bangkai jahiliyah? Sementara kalau fitnah terhadap penguasa, dia dan kelompoknya selalu mengajak untuk tabayun. Kalau memang tidak tau ya jangan sok tau lah.

Seandainya mereka yang melakukan aksi atau memberikan kritik pada penguasa ada yang kliru, harusnya dibenahi, bukan dicaci-maki di atas podium dan dicela mayatnya sebagai bangkai jahiliyah. Gimana perasaan keluarga korban jika mendengar ceramah ustadz Bajrey yang penuh kontroversi itu? Semoga kita semua dijauhkan dari sifat-sifat kasar terhadap sesama kaum muslimim.


2 comments for "Bangkai Jahiliyah, Ujaran Kebencian Ustadz Riyadh Bajrey Terhadap Ummat Islam Yang Menuntut Keadilan"

  1. Rumaysho.Com / Muhammad Abduh Tuasikal, MSc / 1 jam yang lalu



    Ahlus Sunnah memiliki prinsip bahwa haram memberontak kepada penguasa muslim dengan lisan atau dengan anggota badan.

    Dalil dari prinsip ini adalah hadits berikut.

    Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

    “Barangsiapa yang tidak suka sesuatu pada pemimpinnya, bersabarlah. Barangsiapa yang keluar dari ketaatan pada pemimpin barang sejengkal, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR. Bukhari, no. 7053 dan Muslim, no. 1849).

    Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,



    مَنْ خَلَعَ يَداً مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ حُجَّةَ لَهُ ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ في عُنُقِهِ بَيْعَةٌ ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

    “Barangsiapa melepaskan tangan dari ketaatan pada penguasa, maka ia akan bertemu dengan Allah pada hari kiamat dalam ia tidak punya argumen apa-apa untuk membelanya. Barangsiapa yang mati dan di lehernya tidak ada bai’at, maka ia mati seperti keadaan orang jahiliyah.” (HR. Muslim, no. 1851).

    Memberontak di sini bisa jadi didasari keyakinan, bisa jadi dengan menghasut dengan lisan, bisa jadi dengan amalan melepaskan diri dari ketaatan.

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Memberontak kepada imam bisa jadi dengan senjata, bisa jadi dengan ucapan dan perkataan.” (Fatawa Al-‘Ulama Al-Akabir, hlm. 94)

    Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Memberontak pada penguasa bukan hanya dengan senjata. Memberontak bisa pula dengan ucapan, celaan, hasutan, yang menyebabkan tersebarnya fitnah dan kerusakan. Bisa jadi dengan hasutan lebih parah dibanding dengan senjata. Memberontak pada penguasa bisa jadi dengan senjata, bisa jadi dengan hasutan, bisa jadi karena memang sudah menjadi prinsip akidah. Jika tidak dengan ucapan namun ada keyakinan bolehnya memberontak pada ulil amri, maka hal ini sama dengan pemahaman akidah Khawarij.” (Mawqif Al-Muslim min Al-Fitan wa Al-Muzhaharat wa Ats-Tsauraat, hlm. 20)

    Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rajhi hafizhahullah berkata, “Tidak boleh memberontak pada penguasa walaupun ia seorang yang fasik. Tidak boleh memberontak dengan ucapan, perbuatan, dengan senjata, dan tidak pula dengan kalam.” (Al-Hidayah Ar-Rabaaniyyah fi Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, 2:556)

    Adapun hukum demonstrasi:

    Jika demonstransi itu berniat menggulingkan penguasa muslim yang ada, termasuk pula menghasut untuk melakukan demonstrasi semacam itu, hal ini merupakan pemberontakan yang dilarang, sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah.Adapun demonstrasi untuk menuntut hak mereka dan berkeyakinan masih ada keterikatan baiat kepada pemerintah muslim tersebut, maka ini menyelisihi metode generasi terbaik dari umat ini (salafush shalih) dalam memberi nasehat kepada penguasa.

    Yang jelas dua macam demonstrasi di atas sama-sama keliru, yang pertama tentu lebih parah daripada yang kedua.

    Semoga Allah memberi taufik.

    Referensi:

    Al-Furuq bayna Manhaj Ahli As-Sunnah wa Al-Jama’ah wa Manhaj Mukhalifihim fii Nush As-Sulthan fii Dhau’ Al-Kitab As-Sunnah. Cetakan pertama, Tahun 1438 H. Shalih bin Muhammad As-Sawih. Penerbit Madarul Wathan li An-Nashr. Halaman 31-32.  (Download kitab: http://www.al-tawhed.net/UploadedData/tawhedmedia/bohoth152/books/el%20forouk%20nosh%20soltan.pdf?fbclid=IwAR1hawD9Q4nqfcUupYLqJgxqXZ8H4buzFScTqgd7qHptH3lJoC9Za61CpVE)

    Diselesaikan sore hari di Wonosobo, 17 Syawal 1440 H menjelang shalat Maghrib

    Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

    Artikel Rumaysho.Com

    ReplyDelete
  2. dalilnya benar
    pemahamannya yang keblinger

    Pemimpin sekuler yang anti Islam disamakan dengan khalifah,...aneh

    ReplyDelete

Berlangganan via Email