Kiat Istiqomah Dalam Taat

0
8

Iman itu bisa naik dan bisa pula turun. Dan banyak dijumpai nash-nash dalam Al Qur’an dan As Sunnah yang menjelaskan tentang naik turunnya iman.

Diantara manusia ada yang disebut assaabiq bil khoiraat yang artinya terdepan dalam kebaikan. Mereka yang masuk ke level ini adalah mereka yang mengerjakan amalan wajib dan rajin mengamalkan sunnah, menjauhi yang haram dan termasuk yang makruh. (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Furqon).

Kemudian manusia itu ada yang disebut al-Muqtashid yang artinya pertengahan, yaitu manusia yang cukup mengerjakan kewajiban dan menjauhi larangan atau sesuatu yang diharamkan. Dan yang terakhir, manusia itu ada yang disebut zholim linafsihi, artinya menzholimi diri sendiri, disebut demikian karena mereka lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya.

Selain itu, manusia juga disebut al-Muhsin, al-Mukmin dan al-Muslim. Penyebutan atau pengelompokan manusia tersebut menandakan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang.
Sebenarnya banyak dalil menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah atau berkurang. Namun dalam kesempatan ini cukup saya suguhkan satu dalil saja, yakni dari QS al-Anfaal:8 ayat 2 yang bunyinya,

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

Masih kurang? Baiklah saya tambah lagi, dalil yang dari As Sunnah. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Artinya : “Iman itu lebih dari tujuh puluh atau lebih dari enampuluh. Yang paling utama adalah perkataan: “Laa Ilaaha Illa Allah” dan yang terendah adalah membersihkan gangguan dari jalanan dan rasa malu adalah satu cabang dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Naik turunnya iman menjadikan kita kesulitan untuk istiqomah dalam taat. Suatu saat rajin beribadah dan semangat sekali mengejar amal ketaatan, namun kadang semangat ibadah mengendor. Hal itu masih bisa dikatakan wajar jika masih mengerjakan yang wajib.

Sebenarnya ada kiat jitu supaya kita bisa tetap istiqomah dalam ketaatan. Dan kiat ini pernah diamalkan oleh para Sahabat Nabi, yaitu “menghukum diri sendiri“. Suatu malam, Tamim ad-Dari Rodliyallahu ‘anhu tertidur sampai pagi hari, sehingga ia tak sempat shalat tahajud. Maka, selama satu tahun penuh ia tak pernah tidur malam, sebagai hukuman atas keteledorannya.

Umar bin Khattab Rodliyallahu ‘anhu juga suatu hari pergi ke kebun miliknya. Begitu ia kembali, ternyata orang-orang sudah selesai shalat Ashar. “Aku tadi pergi ke kebunku, dan ketika kembali orang-orang sudah shalat Ashar (berjamaah). Maka, kebunku itu akan kusedekahkan untuk orang-orang miskin.”

Dari kisah sahabat di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa, agar kita bisa istiqomah dalam menjalankan amal ketaatan, maka berikan hukuman pada diri sendiri manakala kita terlewat dalam mengamalkan suatu ibadah yang sunnah apalagi yang wajib.

Kegiatan menghukum diri sendiri sangat efektif dalam mendongkrak lemahnya iman. Silahkan anda coba dari yang ringan-ringan, misalnya, ketika suatu saat terlambat sholat berjamaah di masjid gara-gara asyik main gadget, silahkan sedekahkan saja gadgetnya, he..he..

Selamat mencoba…. semoga istiqomah….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here